BERSAMA IFA, MIMPI MENJADI NYATA

Senin, 09 Desember 2013

Anda Pun Bisa Mati karena Patah Hati


Anda Pun Bisa Mati karena Patah Hati
Ilustrasi

Ungkapan mati karena patah hati tampaknya tak hanya sekadar omong kosong. Hasil penelitian menunjukkan, mungkin saja seseorang meninggal karena patah hati ditinggal pergi pasangannya.
 
Dalam suatu riset para peneliti dari Harvard menemukan, ketika seorang suami ditinggal mati oleh istri atau sebaliknya, maka risiko kematian orang yang ditinggalkan pasangannya itu bakal meningkat. Risiko paling tinggi tercatat pada 3 bulan pertama seusai ditinggalkan, yaitu bisa mencapai 66 persen.
 
Penelitian ini melibatkan lebih dari 26 ribu warga Amerika berusia lebih dari 50 tahun. Fokus riset adalah 12.316 partisipan yang menikah pada 1998, dan perjalanan mereka dipantau hingga 2008. Selama penelitian ini dilihat apakah responden menjadi janda atau duda. Peneliti juga mencatat kapan pasangannya itu meninggal dunia.
 
Hasilnya, pada periode tersebut sebanyak 2.912 responden meninggal. Dari jumlah tersebut sebanyak 2.373 responden meninggalkan pasangannya, sedangkan 539 lainnya berstatus sebagai janda atau duda. Risiko meninggal janda atau duda lebih besar dibanding saat pasangannya masih ada. 
 
Sebanyak 50 orang dari 539 responden meninggal 3 bulan setelah ditinggal pasangannya. Sebanyak 26 lainnya menyusul dengan jangka waktu kurang dari 6 bulan. Sedangkan 44 lainnya meninggal dengan kisaran waktu 6-12 bulan.
 
Berbeda dengan riset sebelumnya yang menyatakan peluang pria lebih besar, penelitian ini membuktikan wanita juga memiliki risiko yang sama. Hal ini mungkin dikarenakan pengaruh salah satu pihak dalam menentukan pendapatan dan standar hidup di masa lampau.
 
Peneliti mengatakan, mereka masih belum mendapat penjelasan yang tepat mengapa hal tersebut terjadi. "Bisa saja dikatakan hal tersebut memang sewajarnya. Namun hasil ini mengindikasikan perawatan pasangan yang sedang sakit mungkin menyebabkan penurunan kondisi pihak yang sehat. Saat sakit semakin parah, pihak yang sehat lantas melupakan sama sekali kesehatannya," kata pimpinan riset Dr S V Subramanian.
 
Riset ini memang hanya dilakukan pada responden berusia lebih dari 50 tahun sehingga tidak diketahui apakah pasangan yang lebih muda mengalami hal yang sama. Namun, menurut Subramanian, efek pada pasangan muda mungkin saja lebih kuat.  
 
Beberapa ahli menyatakan, hal ini dapat diakibatkan oleh perubahan gaya hidup. Setiap pasangan terbiasa melakukan sesuatu bersama-sama, tetapi kebersamaan itu tak lagi terwujud saat salah satunya meninggal.
 
"Akibatnya pasangan yang ditinggal tidak lagi makan, tidur, dan mengonsumsi obat dengan baik," ujar gerontologis dari The College of New Rochelle, New York, dr Ken Doka.
 
Selain itu, pemakaman juga bisa menjadi sesuatu yang berat dan penuh tekanan bagi lansia, sehingga tidak heran bila pihak yang ditinggal merasa stres.
 
Khusus pada janda, Doka menambahkan, mereka biasanya akan merasa kesepian dan tidak tahu harus proaktif untuk menemukan lagi pasangan. Hal ini dikarenakan, para janda sering kali tidak mendapatkan dukungan dan mereka juga adalah ibu yang selalu menjaga dan memelihara anak-anaknya.

Mau Jadi Capres? Warga Ingin Lihat Jokowi Jadi Imam Shalat Dulu

Mau Jadi Capres? Warga Ingin Lihat Jokowi Jadi Imam Shalat Dulu
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo saat blusukan ke Waduk Rawa Babon, Ciracas, Jakarta Timur.

Sosok Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo memang terus mengundang simpati warga masyarakat, tak hanya di Jakarta, namun juga di berbagai daerah.

Saat ini, ketika muncul desakan agar ia menjadi presiden, ternyata ada lapisan masyarakat yang menginginkan mantan Wali Kota Solo ini sesekali memimpin shalat atau menjadi imam di salah satu masjid.

"Jokowi luar biasa sebagai calon presiden dari cara kerja, ketegasan, dan lain-lain namun sayangnya, tidak pernah masyarakat melihat dia sesekali memimpin shalat atau menjadi imam di masjid," kata salah seorang dosen Universitas Bengkulu, Lamhir Syam Sinaga, Sabtu (7/12/2813).

Kenapa masyarakat menginginkan ia sesekali menjadi imam shalat di masjid? Penilaian masyarakat terhadap tokohnya itu dilihat dari berbagai sisi, termasuk menjadi imam di masjid, karena dia muslim.

"Ini bukan persoalan kelompok agama atau apa, namun akan menjadi catatan tersendiri dan menambah nilai tawar jika sekali waktu Jokowi menjadi imam dalam shalat di masjid," tambahnya.

Hal yang sama juga dibenarkan oleh salah seorang warga Kota Bengkulu, Muhaimin, menurut dia, apa pun agamanya, maka sekali waktu calon pemimpin harus menjadi pemimpin dalam ritual keagamaannya.

"Karena kebetulan Jokowi Muslim akan baik bila ia sesekali menjadi imam dalam shalat di masjid, ini akan menjadi poin tersendiri bagi masyarakt muslim," ujar Muhaimin.

Sumber: kompas.com

Basuki: Semua yang Bikin Macet, Kita Sikat!

Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama

Macet, banjir, dan penyakit sosial di Jakarta disebut Wakil Gubernur DKI Jakarta sulit diberantas karena peraturan yang sulit ditegakkan. Basuki Tjahaja Purnama pun menegaskan akan memberantas semua penyebab masalah di Ibu Kota itu.

Saat ini, kata Basuki, penegakan peraturan di Jakarta masih lemah. Masalah tak kunjung tuntas. Meski begitu, berbagai upaya masih terus dilakukan Pemprov DKI, misalnya membereskan PKL maupun pengambilalihan fungsi jalur umum untuk mengurangi masalah kemacetan.

"Pokoknya semua yang bikin macet kita sikat. Tapi, enggak semuanya langsung bisa disikat karena setengah Jakarta harus dibongkar dan dibakar kalau mau menegakkan aturan," kata Basuki di Balaikota Jakarta, Senin (9/12/2013).

Basuki mengatakan, DKI telah memiliki banyak peraturan sejak puluhan tahun yang lalu. Namun, tak ada pemimpin yang berani untuk menegakkan peraturan tersebut. Selain itu, ia mengakui kalau tak sedikit pegawai negeri sipil (PNS) DKI yang terlibat penyalahgunaan anggaran.

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo bersamanya pun tak bisa asal untuk menempatkan pejabat A atau B di sebuah posisi prestisius. Hal itu disebabkan adanya persyaratan golongan dan pangkat tertentu untuk menduduki sebuah jabatan.

Saat menjadi anggota Komisi II DPR RI, ia merancang Undang-Undang Aparatur Sipil Negara, di mana PNS dapat menduduki sebuah jabatan hanya dengan persyaratan pangkat tanpa golongan. Namun, anggota lainnya tak setuju dengan usulan Basuki tersebut. Padahal, menurut dia, birokrasi Malaysia dan Singapura bisa bagus karena tidak ada persyaratan golongan.

Peraturan yang diterapkan Malaysia dan Singapura itu kemudian ditiru oleh BUMN. Tak sedikit direktur utama BUMN diduduki oleh para pejabat yang masih muda.

"Dulu di BUMN juga enggak boleh, dan mereka mau membuat terobosan. Kalau saya mau juga hampir semua PNS seharusnya dipenjara karena korupsi," kata Basuki.

Meskipun demikian, Basuki bersama Jokowi kini telah berkaca pada pemerintahan mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela untuk memberikan amnesti kepada para PNS DKI. Hal itu berarti, Jokowi beserta Basuki akan melupakan "dosa-dosa" lama para PNS DKI yang terlibat penyalahgunaan APBD DKI.

Pertimbangannya, kesalahan mereka terjadi secara bersama-sama karena didorong oleh situasi birokrasi yang tidak transparan. Misalnya saja, tak sedikit penyalahgunaan anggaran disebabkan kesalahan administrasi maupun PNS yang dijadikan "mesin ATM" oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM). Namun, apabila pihak berwajib maupun kejaksaan telah mencium indikasi adanya penyelewengan, proses hukum akan tetap berjalan.

Sumber: kompas.com