BERSAMA IFA, MIMPI MENJADI NYATA

Selasa, 05 Mei 2015

Wanita Masa Kini Masih Sering Terbodohi Tuntutan Fisik Sempurna


Foto: copyright thinkstockphotos.com

Sampai hari ini menjadi wanita yang baik namun tetap menawan menjadi semakin begitu sulit. Ada banyak orang berlomba mendapatkan pengakuan kecantikan yang utuh dengan merias wajah, ada yang memilih terlihat menawan dengan sejumlah prestasi yang membanggakan dan dianggap oleh orang sekitar. Karenanya, makin sedikit kita melihat ada wanita yang berbeda, semua seakan seragam dengan model fisik yang sama, yakni putih, tinggi, bersih, berambut panjang.

Banyak orang juga sepakat bahwa pandai itu ketika berhasil meraih gelar yang tinggi dengan nilai terbaik, kemudian ditambah lagi dengan prestasi karir yang sukses di mata dunia ini, yakni kala uang yang dihasilkan cukup membiayai bukan hanya makan sehari-hari, namun juga kebutuhan sekunder dan tersier. Belum lagi ditambah tuntutan sempurna seorang wanita ketika berhasil mendapatkan pria yang mapan dan baik, yang menjadi pria pengayom kehidupannya. Mungkin, di jaman sekarang itulah kebahagiaan yang banyak dicari dan diusahakan banyak orang, secara khusus wanita.

Wanita sering terjebak pada kecantikan fisik semu

Sebenarnya membedakan kodrat dengan perjuangan bukanlah perkara mudah. Selain dituntut menjadi pribadi yang kuat, wanita masa muda kini dituntut untuk secara pribadi bisa menyadari bahwa dirinya berarti dan memiliki potensi untuk mengubah banyak orang di sekelilingnya. Namun tuntutan itu penuh liku, karena banyak orang mempersepsikan kebahagiaan dan kesuksesan seorang wanita secara semu, dan beberapa dari kami wanita yang bodoh pada akhirnya terjebak dalam pandangan yang dibuat orang lain.

Demi mencapai apa yang namanya sempurna secara fisik, banyak dari wanita terjebak memilih cara instan sampai mengorbankan kesehatan. Padahal dalam hati kecil kami, kami sadar bahwa penampilan fisik bukanlah segalanya, apalagi semuanya itu akan luntur dan hilang seiring waktu dan usia kami. Fisik kami adalah anugerah, yang sudah diciptakan sempurna oleh Sang Pencipta, yang diciptakan memang berbeda satu sama lain karena keunikan. Tapi demi kelarisan suatu produk, atau sekedar keinginan pemuasan mata pria, beberapa dari kami sampai terlalu sibuk memikirkan fisik dibandingkan batiniah kami.

Mengejar pendidikan tinggi, namun lupa budi pekerti

Begitupun juga dengan pendidikan kami, tuntutan dunia yang terbiasa menilai kesuksesan dari gelar sering membuat kami kehilangan apa yang sebenarnya harus kami cari, yakni ilmu yang tidak dapat dinilai dan bukan sekedar nilai atau juga IP baik. Budi pekerti, nilai-nilai kebaikan, kesederhanaan sikap dan banyak hal berharga lainnya yang dapat kami gunakan kelak sebagai bagian ketika kami menjadi seorang ibu dan istri. Kami rindu menciptakan pendidikan yang kelak tak hanya sekedar demi pencapaian ambisi, tapi pendidikan yang juga memperjuangkan etika dan moral. Semuanya tentu demi menciptakan generasi yang baik bagi Indonesia di masa depan.

Pada akhirnya kami rindu juga dipertemukan dengan pasangan yang tidak sekedar melihat fisik maupun juga kepandaian kata-kata kami yang bisa saja menipu, tapi kami merindukan pria-pria yang mendukung kami untuk menciptakan nilai-nilai kebaikan dalam diri yang tak sirna seiring waktu, dan malah justru bertambah sepanjang waktu kehidupan. Mungkin jika dapat disimpulkan, kesulitan terbesar menjadi wanita masa kini ialah ketika kami terbodohi dengan perkara-perkara yang membuat kami semakin kehilangan kepercayaan diri kami sebagai seorang wanita atas hal-hal non esensi yang seakan-akan menjadi prioritas.

Kami wanita Indonesia, merindukan bisa tampil menarik dengan diri kami apa adanya, sesuai dengan anugerah Sang Pencipta, menjadi wanita berpendidikan yang bukan hanya pandai dan mengerti ilmu, tapi bagaimana mengaplikasikan ilmu yang ada dan jadi pandu bagi generasi masa depan bangsa. Bukan hanya sekedar mengejar ambisi, tapi berbagi hidup bagi anak kami, suami kami, keluarga kami, dan memberi sumbangsih bagi bangsa ini.

Sumber : www.vemale.com

Selasa, 21 April 2015

Benarkah Gairah Wanita Lebih Besar Saat Hamil ???



Ayah juga perlu menjaga psikis agar tak berdampak pada bayi.

Umumnya gairah seksual wanita yang sedang mengandung akan kembali normal pada kehamilan trimester dua. Tapi, bukannya senang, banyak para calon ayah yang malah takut.

Ada beberapa hal yang melatarbelakangi kembalinya gairah seksual ibu hamil. Pertama, trimester 1 sudah lewat, rasa khawatir pun berkurang sehingga ibu mulai nyaman dengan kehamilannya. Di fase ini, ibu merasa sebagai perempuan sempurna, maka itu tak heran bila keinginan seksualnya juga kembali seperti sebelum hamil.

Kedua, meningkatnya hormon libido. Ini dpicu adanya human Chorionic Gonadotropin (hCG), hormon yang diproduksi oleh plasenta. Dengan adanya hormon ini, bayi sudah kuat karena telah terbentuk plasenta dimana bayi mengambil makanan dari plasenta.

Ketiga, adanya perasaan aman lantaran ibu telah beberapa kali bertemu dokter dan berulang kali juga dokter mengatakan bahwa kandungan ibu aman sehingga tidak masalah untuk melakukan hubungan seksual.

Sayangnya, kembalinya gairah seksual ibu tidak diimbangi dengan kondisi ayah. Alih-alih merasa senang bisa melakukan hubungan seks lagi dengan istrinya, para ayah justru enggan berintim-intim.

Banyak faktor yang melatarbelakanginya. Salah satunya, penolakan istri di awal kehamilan manakala suami mengajak berhubungan seks. Bisa juga karena trauma lantaran pernah ada pengalaman keguguran/perdarahan setelah melakukan hubungan seks. Atau, kebingungan melihat sikap istri yang jadi lebih agresif, sehingga suami lebih berhati-hati.

Di sisi lain, ada pria yang beranggapan hubungan seks dapat menyakiti janin. Padahal, janin dilindungi oleh rahim, air ketuban, korion (selaput terluar pembungkus janin), dan amnion (selaput ketuban).

Dengan begitu, sehebat apa pun seks yang dilakukan, bahkan sampai orgasme sekalipun dan terjadi kontraksi, tidak akan mengganggu janin. Jadi, tidak ada yang perlu ditakutkan.

Bagaimana soal perubahan bentuk tubuh ibu menjadi lebih gemuk atau berisi lantaran kehamilan? Ternyata, itu bukanlah faktor yang menjadi keengganan suami melakukan hubungan seks. Justru, banyak pria mengakui, tubuh ibu hamil di usia kehamilan 12-24 minggu, apalagi kehamilan awal, terlihat lebih seksi.


Sumber: Tabloid Nakita

Rabu, 15 April 2015

Pujian Berlebihan dari Orangtua Bikin Anak Narsis



Ilustrasi

Banyak orang tua yang senang memuji anaknya sendiri. Namun, jangan berlebihan. Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Science, pujian orangtua yang berlebihan dapat membuat anak menjadi narsis.

"Anak-anak akan merasa mereka lebih baik daripada orang lain. Mereka juga menuntut perhatian terus-menerus dan kekaguman dari orang lain," kata ujar peneliti utama Eddie Brummelman dari University of Amsterdam.

Menurut dia, anak akhirnya cenderung menjadi agresif ketika mendapat kritikan atau merasa terhina. Peneliti mengatakan, narsisme pada anak akan berkembang ketika orangtua menganggap anak mereka lebih istimewa dan lebih berhak dari yang lain.

Penelitian psikologi anak ini melibatkan 565 anak-anak Belanda berusia 7-11 tahun dan orangtua mereka. Para peneliti mengaku ingin mengamati tentang citra diri dan bagaimana cara orangtua membesarkan anak-anak mereka.

Penelitian dilakukan dengan meminta anak-anak mengisi kuesioner untuk mengukur kepercayaan diri mereka, dan mengevaluasi seberapa banyak kasih sayang yang mereka dapat dari orangtua. Orangtua pun diminta mengisi kuesioner untuk melihat pandangan mereka terhadap anak dan menilai bagaimana mereka menyayangi anak-anaknya.

"Kuesioner terdiri dari beberapa item seperti, 'anak saya lebih istimewa dari yang lain', 'anak saya adalah contoh yang baik untuk diikuti orang lain," jelas Brummelman.

Peneliti juga melihat bagaimana orangtua menilai kepintaran anak dan mencocokkannya dengan IQ anak sebenarnya, Menurut Brummelman, para orangtua yang memuji anaknya berlebihan sering kali mengklaim anak mereka sangat pintar.

Dari penelitian itu, Brummelman mengaku menemukan hubungan antara pujian berlebihan dari orangtua dengan sifat narsis pada anak. Namun, pengaruhnya tidak terlalu besar dan ada banyak faktor lainnya.

Brummelman berharap temuan ini dapat membantu orangtua dalam mendidik anak mereka. Menurut dia, pujian bisa diberikan untuk membuat  anak merasa lebih dihargai. Namun, jangan berlebihan dan tak perlu menyampaikan bahwa anak mereka lebih istimewa atau lebih memiliki hak daripada anak lainnya.