BERSAMA IFA, MIMPI MENJADI NYATA

Minggu, 20 Oktober 2013

Jokowi Lanjutkan Monorel, "Mules" Bang Yos Hilang

Sutiyoso

Dilanjutkannya proyek pembangunan monorel membuat mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso lega. Pria yang akrab disapa Bang Yos itu mengaku mules-nya sudah hilang karenanya.

"Mules saya hilang. Saya tuh selama ini kalau melihat tiang-tiang yang mangkrak mules perut saya," kata Bang Yos saat ditemui di Hotel Mulia, Jakarta, Rabu (16/10/2013) malam.

Selain mengapresiasi langkah Jokowi melanjutkan pembangunan monorel, Bang Yos juga mengapresiasi dilanjutkannya megaproyek transportasi massal lainnya, yaitu mass rapid transit (MRT). Sutiyoso menceritakan, sejak tahun 2006, ia telah menandatangani perjanjian pembangunan MRT bersama Menteri Keuangan saat itu, Boediono. Ketua Umum PKPI itu pun berterima kasih kepada Pemprov DKI di bawah kepemimpinan Jokowi dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama karena dapat mewujudkan mimpi rakyat Jakarta untuk memiliki MRT dan monorel.

"Sebuah mimpilah ya memiliki MRT dan monorel. Masak yang duluan nanti Ujung Pandang dan Surabaya? Bukannya ibu kota negara," ujarnya.

Di samping itu, Sutiyoso juga mengaku optimistis monorel tidak akan kembali mangkrak pembangunannya. Sebab, pengelola proyek itu, yaitu PT Jakarta Monorel, sudah mengetahui segala sesuatu kajian yang berhubungan dengan monorel. Orang-orang yang berada di dalamnya juga telah mempelajari kesalahan pada masa lalu.

Ia mengimbau kepada para direksi PT JM agar pengalaman yang lalu menjadi pembelajaran ke depannya. "Selama saya sudah pensiun, enam tahun mules perut saya. Lewat Kuningan, ada tiang mangkrak, enggak diteruskan. Sekarang sudah berhenti mules-nya," kata Sutiyoso.

Megaproyek monorel ini telah mangkrak sejak tahun 2007. Selama pemerintahan Fauzi Bowo, tidak ada sinyal proyek yang baru mengerjakan tiangnya itu akan dilanjutkan. Baru pada pemerintahan Jokowi-Basuki, Pemprov DKI melanjutkan proyek besar tersebut.

Sekadar informasi, megaproyek monorel merupakan sistem mass rapid transit berbentuk kereta rel tunggal (monorel). Pembangunan monorel di Jakarta akan terbagi dalam dua jalur, yaitu green line sepanjang 14,3 kilometer dengan 16 stasiun dari Palmerah ke Kuningan melalui Sudirman, lalu jalur blue line sepanjang 13,7 kilometer dengan 14 stasiun dari Kampung Melayu sampai Grogol.

Untuk menjamin pembangunan berjalan lancar dan tidak mengalami gangguan apa pun, Pemprov DKI telah membentuk tim khusus untuk mengawasi pembangunan monorel dan mass rapid transit (MRT). Tim khusus tersebut di bawah koordinasi Deputi Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Sarwo Handayani dengan melibatkan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta.

Tim khusus pengawasan pembangunan monorel ini akan bekerja mengawal PT Jakarta Monorail selaku investor dan China Communications Construction Company Ltd (CCCC) sebagai kontraktor monorel. Tidak hanya itu, Gubernur Jokowi juga menjamin pembangunan monorel akan selesai sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, yaitu selama 3 hingga 3,5 tahun, karena seluruh dokumen kelengkapan administrasi pembangunan serta kesiapan dana investasi telah tersedia.

Sumber: kompas.com

9 Pola hidup inilah yang dapat memicu kanker payudara


9 Pola hidup inilah yang dapat memicu kanker payudara
Ilustrasi kanker payudara. ©2012 Merdeka.com

Kanker payudara semakin lama semakin menjadi momok yang menakutkan bagi kaum perempuan. Penelitian menunjukkan bahwa jumlah penderita kanker payudara semakin meningkat setiap tahunnya. Bisa jadi hal ini disebabkan oleh gaya hidup sehari-hari yang kita lakukan.

Berikut adalah pola gaya hidup yang memicu pertumbuhan kanker yang menjadi pembunuh nomor satu bagi kaum perempuan ini.

1. Kelebihan berat badan

Pola makan yang tidak beraturan dan mengakibatkan obesitas menjadi penyebab kanker payudara kedua setelah merokok. Wanita dengan berat badan berlebih memiliki 30% resiko terkena kanker payudara lebih tinggi daripada wanita dengan berat badan normal.

2. Pil KB

Pil KB seringkali menjadi alat kontrasepsi pilihan pertama wanita yang ingin menunda kehamilan. Hormon sintetis yang terkandung di dalamnya dapat menjadi pemicu kanker payudara.

3. Tidak menyusui

Jika Anda baru saja melahirkan, pastikan bahwa Anda menyusui bayi Anda setidaknya selama 6 bulan. Sebuah studi menunjukkan bahwa menyusui dapat menurunkan resiko kanker payudara di kemudian hari.

4. Menunda kehamilan

Dengan tuntutan hidup yang semakin tinggi banyak wanita yang memilih untuk menunda kehamilan hingga di atas usia 30. Seperti dilansir dari idiva.com, wanita yang memiliki anak di atas usia 30 lebih rentan terkena kanker payudara.

5. Mengonsumsi alkohol

Selain dapat memicu berbagai macam penyakit, alkohol juga dapat meningkatkan resiko terkena kanker payudara.

6. Merokok

Wanita yang merokok lebih beresiko tinggi terkena kanker payudara dibandingkan mereka yang tidak merokok. Hal ini disebabkan karena terdapat logam beracun dalam rokok yang disebut kadmium yang dapat menyebabkan kanker payudara.

7. Terapi hormon

Setelah menopause, wanita berhenti memproduksi hormon estrogen yang dapat menyebabkan stres, depresi, mood swing, dan penurunan libido. Oleh karena itu untuk mengendalikan hal tersebut, banyak wanita yang kemudian menggunakan obat HRT sebagai terapi hormon. Padahal hal ini dapat memicu resiko payudara.

8. Paraben

Wanita tidak bisa dilepaskan dari make up. Tapi tahukah Anda bahwa make up mengandung bahan kimia bernama paraben yang dapat meningkatkan resiko kanker payudara?

9. Lembur

Bekerja begitu keras hingga sampai lembur dapat meningkatkan resiko terkena kanker payudara hingga 2x lipat bagi wanita berusia di atas 30 tahun.

Setiap wanita dapat beresiko terkena payudara. Oleh karena itu agar Anda terhindar dari resiko penyakit ini, ada baiknya untuk mulai menerapkan pola hidup sehat.

Sumber: merdeka.com


Jangan Gunakan Koran untuk Bungkus Makanan, Bahaya!

Jangan Gunakan Koran untuk Bungkus Makanan, Bahaya!
Ilustrasi (huffingtonpost.com)

Menggunakan koran sebagai wadah makanan memang irit. Koran bisa dengan mudah didapat bahkan tanpa bayar sekalipun. Tapi sebenarnya ada bahaya di balik itu. Jangan anggap sepele.

Direktur Pengawasan Produk dan Bahan Berbahaya BPOM, Drs. Mustofa, Apt, Mkes kepada wartawan seperti ditulis Minggu (20/10/2013) menyebutkan, kebiasaan sepele menggunakan kertas koran sebagai pembungkus makanan menyimpan masalah besar.

Memang tidak serta merta masalah ini bakal muncul, tapi bila berlangsung terus menerus, Anda akan rasakan akibatnya. "Ini nih kebiasaan yang kerap dilakukan, memang enak ngemil sambil baca tetapi kan tinta pada koran dan majalah mudah bermigrasi ke camilan terlebih kalau itu pangan agresif berminyak dan panas. Itu bahaya," jelasnya.

Tinta yang ada pada majalah atau koran menurut Mustofa mengandung logam berat Pb (timbal) yang diduga menjadi pemicu kanker bahkan penyakit pikun. Nah, lho! Sekarang terserah Anda.

Sumber: liputan6.com